BEKASI — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi menggelar kegiatan GEMA MUI yang mengangkat tema penguatan ketahanan keluarga di Gedung Swatantra Wibawamukti, Kompleks Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jumat, 18 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mendorong penguatan keluarga sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi berkualitas serta mendukung terwujudnya Kabupaten Bekasi yang bangkit, maju, dan sejahtera.
Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI Kabupaten Bekasi Prof. Dr. KH. Mahmud, M.Si., CSEE., MCE. menegaskan bahwa ketahanan keluarga merupakan salah satu fondasi penting dalam pembangunan masyarakat.
“Tidak mungkin Bekasi bangkit, maju, dan sejahtera jika ketahanan keluarganya tidak terbina dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, keluarga yang memiliki ketahanan kuat akan menjadi lingkungan yang mampu melahirkan generasi berkualitas. Sebaliknya, lemahnya ketahanan keluarga dinilai dapat berdampak terhadap kualitas generasi yang akan datang.
“Jika ketahanan keluarganya bagus, maka kelak nanti akan melahirkan generasi yang bagus. Kalau generasi bagus, maka cita-cita bangkit, maju, dan sejahtera akan bisa kita raih,” katanya.
Untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai persoalan tersebut, MUI menghadirkan pakar, Dr. Aisyah Dahlan, yang akan memberikan materi mengenai strategi membangun ketahanan keluarga.
Kegiatan tersebut juga menjadi momentum bagi MUI bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kabupaten Bekasi untuk menyampaikan sikap terkait isu LGBTQ. Deklarasi tersebut melibatkan berbagai ormas, baik organisasi keagamaan maupun organisasi kedaerahan se-Kabupaten Bekasi.
Dalam pernyataannya, MUI menyampaikan penolakan terhadap berbagai bentuk kegiatan dan perilaku LGBTQ. Sikap tersebut disebut didasarkan pada perspektif agama, Pancasila, dan kearifan lokal.
“Kita, masyarakat Bekasi, menolak berbagai macam bentuk kegiatan dan perilaku LGBTQ,” ujarnya.

MUI menegaskan bahwa sikap tersebut ditujukan terhadap perilaku, bukan terhadap manusianya (orangnya).
“Bukan ke manusianya. Orangnya tetap saudara kita. Tapi perilakunya ini yang kita tidak setujui,” tegasnya.
Selain penguatan dari dalam keluarga, MUI juga mendorong adanya upaya eksternal untuk menjaga ketahanan keluarga dari berbagai pengaruh yang dinilai dapat merusak keutuhan rumah tangga.
Dalam kesempatan tersebut, MUI juga menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi dan unsur legislatif agar turut mengambil peran melalui kebijakan serta program yang berkaitan dengan ketahanan keluarga.
MUI mendorong adanya regulasi terkait isu LGBTQ serta kebijakan yang secara khusus dapat memperkuat ketahanan keluarga di Kabupaten Bekasi.
Prof. Mahmud berharap kegiatan GEMA MUI dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta memperkuat peran keluarga sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah.
“Mudah-mudahan apa yang kita kerjakan memberi manfaat untuk bangsa dan negeri yang kita cintai, wabil khusus Kabupaten Bekasi yang punya cita-cita bangkit, maju, dan sejahtera,” pungkasnya.


