
BEKASI — Ketahanan keluarga tidak hanya dibangun melalui pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga melalui komunikasi, perhatian, dan upaya saling memahami antara suami, istri, serta anak. Hal tersebut disampaikan dr. Aisah Dahlan, CM. NLP., CCHt., CI., saat memberikan materi dalam seminar ketahanan keluarga di Kabupaten Bekasi.
Dalam pemaparannya, dr. Aisah Dahlan mengajak para pasangan suami istri untuk memahami adanya perbedaan pola komunikasi antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya, pemahaman tersebut penting agar perbedaan dalam keluarga tidak berkembang menjadi kesalahpahaman maupun pertengkaran.
“Untuk ketahanan keluarga itu intinya adalah kemesraan suami istri,” ujar dr. Aisah dalam materinya.
Ia menekankan bahwa komunikasi menjadi salah satu kunci dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Suami maupun istri, kata dia, perlu belajar memahami cara pasangan dalam menyampaikan maupun menerima informasi.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah kebiasaan perempuan yang kerap bercerita atau mencurahkan isi hati kepada suami. Dalam kondisi tersebut, dr. Aisah menjelaskan bahwa tidak selalu diperlukan solusi. Terkadang, pasangan hanya membutuhkan perhatian dan didengarkan.
“Perempuan curhat hanya ingin disimak,” katanya.
Sebaliknya, ia menjelaskan, laki-laki cenderung merespons keluhan dengan menawarkan solusi. Perbedaan cara merespons inilah yang menurutnya kerap menjadi pemicu perdebatan dalam rumah tangga apabila tidak dipahami dengan baik.
Karena itu, dr. Aisah mengajak pasangan suami istri membangun kebiasaan komunikasi yang sederhana namun konsisten. Salah satunya dengan memberikan waktu kepada pasangan untuk berbicara tanpa langsung menghakimi atau memberikan solusi.

Peran Orang Tua dalam Membangun Kedekatan dengan Anak
Selain hubungan suami istri, dr. Aisah juga menyoroti pentingnya perhatian orang tua terhadap anak, khususnya dalam membangun komunikasi dengan anak perempuan.
Ia mengingatkan para orang tua untuk tidak sibuk dengan telepon genggam ketika anak sedang berbicara. Orang tua dianjurkan menyimpan telepon dan memberikan perhatian penuh dengan melihat wajah anak ketika mereka bercerita.
Menurut dr. Aisah, perhatian sederhana tersebut dapat membuat anak merasa didengar dan dihargai. Hal ini menjadi penting di tengah berbagai tantangan yang dapat memengaruhi perkembangan anak.
“Kalau Bapak Ibu sedang pegang HP, simpan dulu HP-nya. Lihat mukanya sebentar,” pesannya kepada para orang tua.
Ia juga membagikan pengalamannya selama menangani anak-anak yang menghadapi persoalan narkoba serta mendampingi anak-anak yang mengalami berbagai persoalan sosial. Dari pengalaman tersebut, ia menilai keterlibatan dan perhatian keluarga menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan anak.
MUI Kabupaten Bekasi dan Ormas Islam Disorot
Dalam kesempatan tersebut, dr. Aisah juga menyampaikan apresiasi atas pernyataan sikap yang disampaikan MUI Kabupaten Bekasi bersama organisasi Islam dan organisasi kemasyarakatan se-Kabupaten Bekasi terkait persoalan LGBTQ.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah menangani anak-anak yang mengalami persoalan narkoba sejak 1998. Dalam satu dekade terakhir, ia juga mengaku mendampingi anak-anak yang ingin mendapatkan pertolongan terkait persoalan LGBTQ.
Menurutnya, pengalaman tersebut semakin memperkuat pentingnya peran keluarga dalam memberikan perhatian dan pendampingan kepada anak.
“Apabila dia sedang bicara atau ngobrol sama kita umur berapa pun, kalau Bapak Ibu sedang pegang HP, simpan dulu HP-nya. Lihat mukanya sebentar,” ujarnya.
Dr. Aisah menegaskan bahwa penguatan keluarga membutuhkan proses belajar yang terus-menerus. Suami dan istri tidak cukup hanya menjalankan peran masing-masing, tetapi juga perlu membangun komunikasi yang sehat dan saling memahami.
Materi tersebut menjadi bagian dari pesan utama seminar, yakni pentingnya penguatan ketahanan keluarga sebagai salah satu fondasi dalam membangun masyarakat yang kuat.


